MAKALAH TRADISI ISLAM DI NUSANTARA
SEJARAH TRADISI ISLAM NUSANTARA
“ GREBEK BESAR di DEMAK ”
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Oleh :
| Iffa Zainan Nisa (19) |
SMP NEGERI 1 MAYONG
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan
puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan
hidayah-Nya kepada kami untuk menyelesaikan penyusunan tugas Pendidikan Agama
Islam tentang tradisi Islam di nusantara yaitu Grebek Besar di Demak, dan atas
kerja keras kami, sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik.
Laporan ini
bertujuan untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam tentang tradisi Islam di
nusantara.
Untuk itu, dalam
kesempatan ini saya ucapkan terimakasih kepada :
1.
Drs.H.Kasmono, selakuKepala SMP
Negeri 1 Mayong,
2.
Drs. H. Talkhis C Noor, MPd I, selaku guru mata pelajaran PAI,
3.
Orang tua kami, yang telah mendoakan kami,
4.
Teman-teman kami di SMP Negeri 1 Mayong,
5.
Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu,
Kami berharap
laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat dijadikan referensi di masa yang
akan datang.
Kami menyadari
jika laporan ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran kami
terima dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.
Jepara, 19
Februari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................
i
KATA PENGANTAR......................................................................................................
ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................
1
BAB II TRADISI GREBEG BESAR
DEMAK..............................................................
2
A. Sejarah Awal Grebeg Besar
Demak........................................................................ 2
B. Tradisi Grebeg Besar...............................................................................................
3
C.
Prosesi Ritual Grebeg Besar Demak........................................................................
4
D.
Fungsi dan Nilai Grebeg Besar Demak...................................................................
6
BAB III PENUTUP...........................................................................................................
9
A.
Simpulan..................................................................................................................
9
B.
Saran........................................................................................................................
9
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................
10
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Semua bentuk
kebudayaan yang ada di dunia memiliki kesamaan unsur yang bersifat universal.
Dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjoroningrat menyebutkan bahwa
kebudayaan memiliki tujuh unsur yang bersifat universal, antara lain adalah
Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup dan
teknologi, Sistem Mata Pencaharian, Sistem Religi dan Kesenian. Ketujuh unsur
universal tersebut, pada akhirnya dapat dimenifestasikan ke dalam tiga wujud
kebudayaan, yaitu yang berupa sistem budaya, sistem sosial, dan unsur
kebudayaan fisik.
Sebagai contoh
adalah unsur universal kebudayaan yang berupa sistem religi akan
dimanifestasikan ke dalam tiga wujud kebudayaan, yang pertama adalah religi
sebagai sebuah sistem keyakinan dan gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, serta
dunia akhiret. Yang kedua akan berwujud upacara-upacara, dan yang ketiga adalah
berwujud sebagai benda-benda religius.
Dalam tugas ini,
penulis akan membicarakan bagaimana manifestasi sistem religi masyarakat Demak
yang dituangkan ke dalam upacara keagamaan yang merupakan kebudayaan khas
masyarakat Demak, yaitu tradisi upacara Grebeg Besar. Selain itu juga akan
dibicarakan mengenai sejarah awal Grebeg Besar, Prosesi ritual Grebeg Besar,
serta nilai-nilai yang terkandung dalam upacara ritual Grebeg Besar tersebut.
BAB II
TRADISI GREBEG BESAR DEMAK
A.
Sejarah Awal Grebeg Besar
Demak
Dalam bahasa Jawa Garebeg,
Grebeg, Gerbeg, bermakna : suara angin yang menderu. Kata bahasa Jawa
anggarebeg, mengandung makna mengiring raja, pembesar atau pengantin. Grebeg
bisa juga diartikan digiring, dikumpulkan, dan dikepung. Jadi grebeg bisa
berarti dikumpulkan dalam suatu tempat untuk kepentingan khusus. Adapun Grebeg
Besar seremonial yang terkenal di Demak, kata “Besar” adalah mengambil nama
bulan yaitu bulan Besar (Dzulhijah). Maka makna Grebeg Besar adalah kumpulnya
masyarakat Islam pada bulan Besar, sekali dalam setahun yaitu untuk suatu
kepentingan da’wah Islamiyah di Masjid agung Demak.
Dari cerita lisan diturturkan
bahwa dahulu kala para raja Jawa selalu menyelenggarakan selamatan kerajaan
(bahasa Jawa = wilujengan nagari) setiap tahun baru dan disebut Rojowedo,
artinya kitab suci raja atau kebajikan raja. Disebut pula, ada yang mengatakan
Rojomedo, artinya hewan korban kerajaan. Tujuan selamatan kerajaan yang
hakikatnya adalah suatu cara korban agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan
perlindungan, keselamatan kepada raja dan kerajaan serta rakyatnya.
Dalam peristiwa itu, rakyat datang menghadap raja untuk menyampaikan sembah baktinya. Raja keluar dari keratin lalu duduk di singgasana keemasan (bahasa jawa = dhampar kencono) di bangsal Ponconiti. Penampilan raja untuk menerima sembah bakti rakyat yang datang mengahadap (bahasa jawa=sowan), diiringi (bahasa jawa = ginarebeg) oleh para putra dan segenap punggawa Keraton.
Dalam peristiwa itu, rakyat datang menghadap raja untuk menyampaikan sembah baktinya. Raja keluar dari keratin lalu duduk di singgasana keemasan (bahasa jawa = dhampar kencono) di bangsal Ponconiti. Penampilan raja untuk menerima sembah bakti rakyat yang datang mengahadap (bahasa jawa=sowan), diiringi (bahasa jawa = ginarebeg) oleh para putra dan segenap punggawa Keraton.
Tak lama setelah Raden Patah
dinobatkan menjadi Sultan pertama kasultanan Demak dengan gelar Kanjeng Sultan
Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panatagama, baginda langsung menghapuskan
adat menyelenggarakan upacara kurban yang selalu dilakukan oleh para raja
Jawa-Hindu terdahulu. Sebab adat yang seperti itu, dinilai bertentangan dengan
aqidah Islam. Penghapusan adat itu menimbulkan keresahan sebagian kalangan
rakyat, sebab rakyat yang selama berabad-abad turun-temurun sudah terbiasa
hidup dengan adat dari kepercayaan lama, belum dapat menerima sikap rajanya
yang baru itu. Keresahan tersebut menimbulkan gangguan keamanan Negara, sebab
khawatir timbul wabah penyakit menular. Atas saran para wali, adat kepercayaan
lama itu agar dihidupkan kembali, namun diberi warna keislaman yaitu hewan
kurban disembelih menurut aturan agama Islam.
Awal dan akhir doa selamatan
berupa do’a Islam yang dipanjatkan oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang. Sunan
Kalijaga mengetahui bahwa pada waktu itu rakyat menyukai perayaan dan keramaian
yang dihubungkan dengan upacara keagamaan. Apalagi jika perayaan dan keramaian
ada juga irama gamelannya, tentu saja akan sangat menarik perhatian rakyat
untuk datang melihatnya. Akhirnya timbullah gagasan Sunan Kalijaga supaya
kerajaan menyelenggarakan perayaaan dan keramaian setiap menyongsong hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal. Untuk menarik perhatian
rakyat agar mau datang ke Masjid Besar, maka dibunyikanlah gamelan yang
ditempatkan di halaman masjid. Setelah berkumpul maka para wali dapat berda’wah
langsung dihadapan rakyat.
Maka dalam bulan Rabiul Awal,
12 (dua belas) hari sebelum kelahiran Nabi, diselenggarakan perayaan dan
keramaian yang disebut Sekaten. Di halaman Masjid Besar didirikan tempat khusus
untuk menaruh dan membunyikan gamelan yang disebut pagongan. Pagongan adalah
tempat gong (gamelan) yang dibuat oleh Sunan Giri. Konon sebagian dari
gendhing-gendhing (lagu) gamelan diciptakan oleh Sunan Giri dan sebagian lagi
oleh Sunan Kalijaga. Selama 12 hari (dua belas) hari gamelan diperdengarkan
terus menerus, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam jum’at sampai
lewat sholat Jum’at.
B.
Tradisi Grebeg Besar
Grebeg Besar dan Sejarah Kota
Wali tak bisa disangkal lagi jika membuat orang Demak akan membanggakan dirinya
sebagai warga Kota Wali. Catatan sejarah Kabupaten Demak memang tidak lepas
dari perjuangan para wali (walisongo) dalam kegiatan menyebarkan agama Islam
pada abad XV, yaitu keberadaan Demak sebagai pusat kerajaan Islam (Kasultanan
Bintoro) di Pulau Jawa dengan ”masterpieces”nya adalah Sunan Kalijaga dan
Sultan Patah yang diakui merupakan tokoh-tokoh besar dan berpengaruh dalam lintas
sejarah Kabupaten Demak.
Tidaklah mengherankan jika
kemudian beragam acara ritual yang dimulai atau diperkenalkan oleh kedua tokoh
tersebut masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi semacam upacara ritual.
Menurut Rafael Raga terdapat dua macam ritus yaitu: (1) Ritus penyucian
(purification) yaitu pelepasan diri dari yang jahat dan masuk kedalam dimensi
baik, tujuannya untuk memberikan kekuatan yang baik dan mencegah kekuatan yang
jahat. Sarana yang paling dikenal adalah air, air tidak hanya membersihkan noda
tapi juga menghidupkan, (2) Ritus kurban (socrifice) yaitu mengadakan upacara
kurban (kurban persembahan,pujian) tampak bahwa manusia memberikan sesuatu
kepada Yang Ilahi demi suatu kebaikandan ketentraman hidup.
Pada masa Sunan Kalijaga
menjadi penasihat spiritual Sultan Bintoro, khususnya pada masa emas kejayaan
pemerintahan Sultan Patah. Beliau antara lain menyelenggarakan Grebeg Besar
sebagai media da’wah. Tradisi ini diselenggarakan tiap tanggal 10 Dzulhijjah
bersama dengan datangnya peringatan Hari Raya Idul Adha (Qurban). Hanya saja
sebetulnya Grebeg Besar ini pada masa pertama kalinya mulai dilaksanakan di
Demak, tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Tetapi memang menurut
catatan sejarahnya, semula tradisi Grebeg Besar ada empat, yaitu Grebeg Maulid,
Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar. Adapun sampai kini masih
berlangsung di Demak adalah Grebeg Besar. Sementara di luar Grebeg besar yang
kini masih dilestarikan adalah di kerajaan Solo, Yogyakarta dan Cirebon.
C. Prosesi Ritual Grebeg Besar Demak
Grebeg Besar adalah kumpulan
masyarakat Islam pada bulan Besar, yang dilaksanakan setahun sekali untuk
kepentingan dakwah Islamiyah di masjid agung Demak. Adapun prosesnya meliputi
ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga. Tumpeng Sanga dilaksanakan
pada malam menjelang tanggal 10 Dzulhijah. Pada saat yang sama di Kadilangu
juga dilaksanakan kegiatan serupa yaitu selamatan Ancakan. Selamatan Ancakan
dilaksanakan di Pendapa Natabratan yang terletak di sebelah timur Kasepuhan
Kadilangu sekitar 500 meter. Ancakan adalah tempat nasi dan lauk pauk yang
terbuat dari anyaman bambu. Nasi dan lauk pauk sebelum diletakkan diatas Ancak,
dilapisi dahulu dengan daun jati. Tumpeng Ancakan terdiri dari nasi, lauk pauk,
kluban.
Pada pagi hari sekitar pukul 05.30
tepatnya tanggal 10 Dzulhijah, masyarakat melaksanakan Sholat Idhul Adha di
Masjid Agung Demak. Para jamaah berdatangan untuk melaksanakan sholat. Pada
pukul 09.00 WIB di pendapa Kabupaten diadakan acara iring-iringan uborampe
minyak jamas. Uborampe artinya perlengkapan. Uborampe minyak jamas digunakan
untuk mensucikan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga yang berupa Kotang
Ontokusumo, keris pusaka Kyai Sirikan dan keris pusaka Kyai Carubuk. Acara
penjamasan Pusaka peninggalan Sunan kalijaga menjadi inti dari ritual Grebeg
Besar. Nama lain Sunan Kalijaga adalah Kaki waloko. Kaki/Aki adalah sebutan
bagi orang yang tua. Pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yang dijamasi antara
lain adalah Kotang Ontokusumo, keris Kyai Carubuk dan keris Kyai Sirikan.
Penjelasan dari tata cara
ritual Grebeg Besar adalah sebagai berikut : Bupati beserta pelaku ritual
lainnya berada pada alam profan yang kemudian dengan mengadakan ziarah mereka
melompat ke alam sakral.
Sesuai yang diungkap dalam
teori The Ritual Proses (1969) Victor Turner yang merujuk pada Van Gennep dalam
The Ritual Passage (1909) terjemahan Winangun bahwa, masa peralihan dalam
ritual disebut dengan separasi yaitu pelepasan individu atau kelompok baik dari
keadaan tetap dalam struktur sosial maupun dari serangkaian keadaan kultural.
Pada tahap selanjutnya adalah, fase liminalitas yaitu Bupati beserta para
peziarah yang melakukan ziarah di makam. Pada saat itu mereka mengalami keadaan
ambigu atau berada dalam ambang pintu liminal. Mereka memanjatkan doa-doa yang
dikhususkan bagi para leluhur. Doa merupakan bentuk komunikasi yang ditujukan
kepada Allah SWT.
Tahap berikutnya adalah post
liminal atau reintegation, yaitu kembalinya peziarah ke dalam masyarakat sehari
hari. Penyatuan kembali menjadi anggota masyarakat membawa mereka ke perubahan
pandangan-pandangan yang tidak dimiliki sebelumnya.
Tumpeng Sanga diartikan sebagai simbol Wali yang berjumlah sembilan orang. Menurut Dilinstone (2002:20) dalam teori simbol mengatakan bahwa, simbol adalah kata atau barang atau objek. Tumpeng yang berbentuk kerucut menjulang ke atas mempunyai makna bahwa, manusia harus selalu ingat kepada Allah. Kerucut lancip juga mempunyai makna doa yang dipanjatkan manusia kepada Allah. Para Wali yang berjumlah sembilan orang (Wali sanga), sehingga diharapkan agar mereka senantiasa bersyukur dan selalu ingat kepada Allah SAW.
Tumpeng Sanga diartikan sebagai simbol Wali yang berjumlah sembilan orang. Menurut Dilinstone (2002:20) dalam teori simbol mengatakan bahwa, simbol adalah kata atau barang atau objek. Tumpeng yang berbentuk kerucut menjulang ke atas mempunyai makna bahwa, manusia harus selalu ingat kepada Allah. Kerucut lancip juga mempunyai makna doa yang dipanjatkan manusia kepada Allah. Para Wali yang berjumlah sembilan orang (Wali sanga), sehingga diharapkan agar mereka senantiasa bersyukur dan selalu ingat kepada Allah SAW.
Pada saat yang sama di
Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa yaitu selamatan Ancakan. Selamatan
Ancakan juga tersebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar
sesepuh dan seluruh anggota panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan
lancar tanpa halangan suatu apapun juga. Tahap separasi terlihat pada saat
masyarakat Islam Demak berdatangan ke Masjid Agung untuk melaksanakan sholat.
Sholat dapat diartikan berdoa. Menurut hukum Islam (Syara’) sholat berarti
menghadapkan jiwa dan raga kepada Allah. Sholat Idul Adha merupakan ibadah
untuk membersihkan diri dari perbuatan dosa agar kembali suci. Suci dapat
diartikan bersih lahir dan batin. Sesuai dengan teori Performance Studies yang
mengatakan bahwa, ritual adalah simbol yang mendramatisir sebagai tindakan
untuk berfikir, ritual mengintegrasikan pikiran dan tindakan. Ibadah dapat
diartikan tunduk dan patuh secara total kepada Allah. Beribadah bukan hanya
tunduk secara ritual, melainkan juga tunduk secara sosial. Oleh sebab itu
manusia harus menjaga hubungan dengan Allah dan dengan sesamanya. Penyembelihan
hewan kurban merupakan suatu aktivitas ritual persembahan. Persembahan kepada
Allah dengan cara beribadah, melakukan sholat Idul Adha dan penyembelihan hewan
kurban. Idul Adha adalah ritus kurban memiliki makna ketaqwaan manusia atas
perintah sang Khalik. Manusia diajarkan untuk berbagi kepada yang tidak mampu,
jika diberi rizki yang lebih.
Uborampe artinya perlengkapan.
Uborampe minyak jamas digunakan untuk mensucikan pusaka peninggalan Kanjeng
Sunan Kalijaga yang berupa Kotang Ontokusumo, keris pusaka Kyai Sirikan dan
keris pusaka Kyai Carubuk. Minyak yang digunakan untuk menjamasi pusaka atau
disebut dengan Minyak Jamas diambil dari kraton Surakarta. Kemudian minyak
tersebut dicampur dengan minyak dari Kadilangu. Penjamasan artinya penyucian,
dapat dimaknai pula manusia harus selalu menyucikan diri dari dosa dengan
beribadah, bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuat dalam hidupnya.
D. Fungsi dan Nilai Grebeg Besar Demak
Fungsi Grebeg Besar bagi
masyarakat sekarang ini antara lain adalah sebagai sarana upacara adat. Ritual
Grebeg Besar merupakan salah satu kesenian sebagai media pelembagaan atau religi
yang bertujuan sebagai penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para
leluhur sehubungan dengan kegiatan syiar Islam yang dilaksanakan oleh Walisongo
terutama Kanjeng Sunan Kalijaga. Fungsi ritual Grebeg Besar di Demak bagi
masyarakat sekarang masih tetap sebagai sarana upacara ritual. Grebeg Besar
sebagai media pelembagaan religi yang bertujuan untuk mengekspresikan rasa
syukur atas limpahan Rahmat Allah SWT serta menghormati Walisongo yang telah
berjasa dalam menyebarkan agama Islam Khususnya di Demak. Grebeg Besar
merupakan media hiburan rakyat yang murah meriah serta dapat menghilangkan
sejenak kepenatan atau kejenuhan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Grebeg
Besar dijadikan sarana hiburan yang sangat menarik dan murah meriah.
Tumpeng Sanga merupakan sebuah
simbol Wali yang yang berjumlah sembilan orang. Minyak jamas merupakan bentuk
simbol yang digunakan untuk menyucikan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan. Minyak
tersebut dicampur dengan air. Air dalam kehidupan sehari-hari berfungsi untuk membersihkan
kotoran. Air yang sakral dalam upacara ritual mempunyai makna simbolis untuk
mengungkapkan suatu gagasan, kegiatan yang bertujuan untuk pembersihan dosa,
menyelamatkan, membersihkan dari segala rintangan. Gamelan dan karawitan dalam
Grebeg Besar merupakan simbol ritual yang juga digunakan sebagai media
komunikasi. Dalam gending-gending Jawa dan musik Sholawatan yang ditampilkan
mempunyai fungsi menyampaikan pesan sehingga menjadi media komunikasi yang
komunikatif guna kelancaran dakwah Islam. Grebeg Besar mempunyai fungsi
mengatur karena norma mempunyai daya menguasai interaksi dan komunikasi,
tingkah laku manusia diatur atas dasar norma-norma tersebut. Norma mengabdikan
dirinya pada nilai-nilai sehingga nilai yang baik akan mendapat dukungan sedangkan
nilai buruk harus dielakkan.
Dapat disimpulkan bahwa Grebeg Besar dapat
digunakan sebagai media dalam menjaga keharmonisan norma-norma. Semua pendukung
ritual beserta masyarakat yang terlibat, selalu menjaga dan mentaati aturan
serta norma yang berlaku demi lancarnya penyelanggaraan Grebeg Besar.
Grebeg Besar sebagai obyek
wisata daya pikat utama yang membuat masyarakat tertarik adalah arak-arakan
serta iring-iringan minyak jamas yang dibawa dari pendapa Kabupaten Ke
Kadilangu. Grebeg Besar tersebut banyak menampilkan simbol ekspresif atau seni
baik seni tari, seni musik maupun seni rupa.
Nilai-nilai yang terkandung
dalam Grebeg Besar antara lain adalah religi atau ibadah. Grebeg Besar
mempunyai nilai religi, sebab dalam Grebeg Besar merupakansuatu kagiatan
keagamaan yang memiliki ajaran kepercayaan, norma-norma, aturan-aturan untuk
melakukan upacara. Masyarakat percaya bahwa ajaran-ajaran yang disampaikan oleh
para Wali dari Nabi Muhammad SAW adalah benar. Masyarakat Islam dengan sepenuh
hati menjalankan ibadah dan mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuh hati.
Nilai kegotong-royongan terlihat pada persiapan acara pengajian serta tumpeng sembilan disiapkan oleh takmir masjid. Grebeg Besar merupakan acara ritual yang penuh dengan aktivitas yang mengandung nilai-nilai solidaritas. Dalam berbagai atraksi maupun pertunjukan yang mewarnai acara tersebut diperlukan rasa kesetiakawanan. Sifat-sifat kesetiakawanan tersebut merupakan sifat yang penting dan berguna dalam kehidupan manusia. Masyarakat berbaur menjadi satu saling mengenal sehingga menambah terjalinnya rasa solidaritas antar sesama masyarakat.
Nilai kegotong-royongan terlihat pada persiapan acara pengajian serta tumpeng sembilan disiapkan oleh takmir masjid. Grebeg Besar merupakan acara ritual yang penuh dengan aktivitas yang mengandung nilai-nilai solidaritas. Dalam berbagai atraksi maupun pertunjukan yang mewarnai acara tersebut diperlukan rasa kesetiakawanan. Sifat-sifat kesetiakawanan tersebut merupakan sifat yang penting dan berguna dalam kehidupan manusia. Masyarakat berbaur menjadi satu saling mengenal sehingga menambah terjalinnya rasa solidaritas antar sesama masyarakat.
Terkait dengan pelaksanaan
Grebeg Besar dapat dilihat dari partisipasi semua pihak yang ikut mendukung
acara tersebut. Nilai kepemimpinan juga terkandung dalam acara Grebeg Besar
yang terungkap melalui kegiatan yang dipimpin oleh Bupati. Acara tersebut
terselenggara dengan baik serta himbauan dan wejangan kepada warga masyarakat
merupakan suatu bentuk pencerahan masyarakat agar dapat menjalani kehidupan kemasyarakatan
dengan tentram dan damai.
Nilai tanggungjawab melibatkan
pelaku ritual beserta semua warga masyarakat yang mengikuti acara Grebeg Besar.
Nilai etika yang lain juga terlihat pada acara ritual di Pendapa sewaktu lurah
Tamtama mengahadap Bupati untuk menerima perintah mengantar minyak Jamas. Lurah
Tamtama mengahadap Bupati dengan berjalan jongkok. Berjalan jongkok serta
menghaturkan sembah, tindakan tersebut menunjukkan rasa hormat seorang abdi
dalem kepada rajanya.
Nilai etika selanjutnya
terungkap dari cara berbicara pranata cara atau pemandu acara dalam ritual
tersebut menggunakan bahasa Jawa. Para undangan yang datang saling berjabat
tangan dan saling menyapa.
Nilai estetis terlihat pula
dalam rangkaian acara Grebeg Besar. Sarana yang digunakan sebagai pendukung
upacara seperti tumpeng yang berjumlah sembilan buah, sholawatan yang
dilantunkan pada saat slametan tumpeng sanga. Iringan gamelan yang
dipertunjukan di Pendapa, tarian Bedaya yang ditarikan oleh sembilan penari.
Grebeg Besar mempunyai nilai estetis dikarenakan dalam acara tersebut begitu
banyak pertunjukan yang ditampilkan serta sarana yang digunakan. Pertunjukkan
yang ditampilkan sangat menarik perhatian masyarakat yang menyaksikannya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Simpulan
Grebeg yang masih
dilaksanakan khususnya di Demak adalah Grebeg Besar. Grebeg Besar merupakan
sebuah kesenian hasil akulturasi budaya Jawa Islam dengan budaya Arab. Grebeg
Besar merupakan tradisi ritual yang bertujuan menghormati perjuangan para wali
dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa khususnya Demak Bintoro, yang
diprakarsai oleh Sunan Kalijaga. Pada awalnya Grebeg besar memiliki fungsi
ritual yang sangat sakral, namun seiring berkembangnya zaman ritual berubah
menjadi profan. Ritual hanya dijadikan sebagai suatu aktivitas rutin yang
dilaksanakan tanpa makna. Pemahaman makna proses ritual Grebeg Besar sebagai
warisan budaya leluhur serta fungsi ritual bagi masyarakat perlu mendapat
perhatian khusus dari semua pihak.
Fungsi ritual Grebeg
Besar di Demak bagi masyarakat sekarang ini berfungsi sebagai Sarana Upacara
Adat, Hiburan, Komunikasi, Integrasi Kemasyarakatan, Menjaga Keharmonisan
Norma-Norma, Objek Wisata. Nilai-nilai yang terkandung dalam Grebeg Besar
antara lain: Religi/ibadah, Kegotong-royongan, Kerukunan, Solidaritas, Cinta
Tanah Air, Kepemimpinan, Tanggung Jawab, Etika, serta Estetika.
Ada sebuah kepercayaan yang mengatakan, barang siapa menghadiri Grebeg Besar
Demak tujuh kali berturut-turut, maka sama nilainya dengan melaksanakan Ibadah
Haji. Dalam upacara-upacara ini, pada zaman dahulu diyakini masyarakat awam
tujuan diadakan ritual ini mampu menghilangkan marabahaya, maka pada saat ini
kita perlu mengubah pandangan tersebut menjdi sebuah konsep yang baru yaitu
dengan mencari solusi penyelesaiaan masalah dengan cara koordinasi dan
konsolidasi pemerintah dengan masyarakat setempat. Dengan tujuan acara ini bisa
lebih baik dan membawa kemajuan Kota Wali.
Inilah watak
religius masyarakat Kabupaten Demak yang selalu menghormati ajaran dan tradisi
leluhur, khususnya para wali tentang keimanan dan ketaqwaan. Bukan hanya
sekadar menjalankan ajaran wajib dalam agama, tetapi juga tradisi dan budaya
Islami yang dikembangkan para waki terdahulu untuk menarik perhatian dan
membawa masyarakat waktu itu untuk mengikuti ajaran-ajaran yang mereka
sebarkan.
B.
Saran
1)
Kita harus menjadikan Grebeg Besar
sebagai salah satu kesenian sebagai media pelembagaan atau religi yang
bertujuan sebagai penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para leluhur
sehubungan dengan kegiatan syiar Islam yang dilaksanakan oleh Walisongo
terutama Sunan Kalijaga
2)
Kita harus mengekspresikan rasa syukur
atas limpahan Rahmat Allah SWT serta menghormati Walisongo yang telah berjasa
dalam menyebarkan agama Islam dan menjadikan Grebeg Besar sebagai media hiburan
rakyat yang murah meriah serta dapat menghilangkan sejenak kepenatan atau
kejenuhan dalam menjalani rutinitas sehari-hari
3)
Kia harus menjadikan Grebeg Besar sebagai media dalam menjaga keharmonisan
norma-norma. Semua pendukung ritual beserta masyarakat yang terlibat, selalu
menjaga dan mentaati aturan serta norma yang berlaku demi lancarnya
penyelanggaraan Grebeg Besar.
DAFTAR PUSTAKA
Khafid, Muhammad K, Sejarah Demak :
Matahari terbit di Glagahwangi,
(Demak:
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, 2008).
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2000).
Van Gennep, Arnold [1909] .1960 .The rites of passage. London:
Routledge & Kegan Paul. Terj
Winangun (Yogyakarta:Kanisius, 1990).
Winangun, Winarya, Masyarakat Bebas Struktur Liminalitas dan
Komunitas, (Yogyakarta:Kanisius, 1990).

Comments
Post a Comment